Oleh: diezcorner | Desember 6, 2009

Hidup seorang Kuli

SEBUAH komedi gelap berlatar belakang religi dari Hanung Bramantyo. Tak sekadar tontonan yang menghibur, sutradara Ayat-Ayat Cinta ini mengajak penonton untuk merenung dan menertawakan diri sendiri. Sebuah film yang mengolok-olok, menyindir manusia yang mencoba menguji Tuhan, lewat doanya, yang salah kaprah.

Dialah Madrim (Aming). Seorang kuli pangung di sebuah pasar tradisional yang becek dan bau. Hidupnya begitu akrab dengan kemiskinan. Dari sosoknya saja, kesan itu terekam jelas. Tubuhnya kerempeng, kulit hitam terbakar, dan hanya dibalut pakaian lusuh ala kadarnya. Satu-satunya harta bagi Madrim adalah sang istri, Leha (Titi Kamal). Ia napas kehidupan buat Madrim. Meski miskin, ia tetap semangat asalkan bisa hidup dengan Leha, wanita pujaan hatinya.

Sial, kemiskinan tak membuat Leha betah. Pada suatu hari, Leha memilih angkat kaki meninggalkan gubuk reyot dan, tentu saja, Madrim, suaminya yang kuli angkut itu.

Inilah yang membuat Madrim kian berduka. Satu-satunya harta raib pula. Ia terpukul. Dalam duka ia berdoa kepada Tuhan agar ia bisa dipertemukan kembali dengan Leha. ”Ya, Allah kembalikan istriku. Aku cintai dia. Aku butuh dia ya Allah,” pinta Madrim dalam doanya. Namun, beberapa hari berlalu, sang istri belum juga datang ke pelukannya.

Madrim marah. Dalam doanya ia kini mengancam Tuhan.  “Aku capek. Aku lelah berdoa ya Allah. Capek ya Allah. Capek… Kalau dalam tiga hari tiga malam engkau tidak mengabulkan doaku. Aku akan murtad! Aku akan berpaling pada setan ya Allah,” ancam Madrim.

Seketika petir menyambar-nyambar membelah langit. Menumpahkan air hujan. Madrim, yang telah murtad melenggang tak peduli. Ia berjalan tanpa arah tujuan yang pasti. Berkilo-kilo meter.

Di sebuah padang ilalang ia berjalan. Angin menyambutnya dengan tipuan kencang. Awan berubah hitam. Dus, sebuah kilatan petir menyambar Madrim. Tubuhnya terpental dan gosong. Subhanallah. Kilatan petir beribu-ribu volt tak membuat Madrim mati melotot. Tubuhnya digotong warga ke rumah Pak Kades (H Jojon).

Mereka menyangka Madrim tewas. Doa dipanjatkan. Tiba-tiba Madrim bangun dari tidurnya. Pak Kades dan warga dibuat ketakutan. Adakah Madrim hantu yang bangkit dari kematian?

Sejurus kemudian, mata Madrim melirik tajam. Satu per satu dipandanginya. Tatapan matanya berhenti di sebuah bingkai foto putri Pak Kades yang terpajang di dinding rumah. “Saya melihat anak bapak!” celetuk Madrim.  Pak Kades tentu saja bingung. Bagaimana bisa orang yang baru saja bangun dari siuman bertemu dengan anaknya yang hilang satu tahun lalu. “Kebohongan macam apa ini?” pikir Pak Kades.

Ya, tanpa diduga, pascakesambar petir Madrim punya kekuatan supranatural bak seorang paranormal. Bisa merekam apa yang terjadi dan tersembunyi di balik sebuah peristiwa. Singkat kata, Madrim jadi orang “pintar”!

Sekejap namanya diburu banyak orang. Dari polisi hingga pialang saham licik bernama Tantra (Dedi Sutomo). Berkat kehebatannya, Madrim melejit bak pesohor. Uang pun mengalir deras. Tantra berani membayarnya mahal atas kemampuan Madrim bisa membaca peristiwa di masa depan. Sialnya, kemampuan itu tak berlaku untuk menerawang dirinya, juga keberadaan istrinya yang raib tanpa jejak.

Dari sinilah cerita itu makin rancak disuguhkan Jujur Prananto, penulis skenario sekaligus penulis cerpennya.  Doa yang Mengancam diambil dari karya Cerpen Terbaik Kompas. Hanung kemudian menyuguhkannya ke dalam visual gambar yang gelap dan getir.

Inilah kisah yang mengangkat perjalanan tentang seorang manusia, yang salah kaprah memahami keberadaan Tuhan. Bagi Madrim, Tuhan tak ubahnya mandor yang bisa dengan mudah diminta dan diancam. Ia benar-benar telah sesat dan makin pongah ketika semua permintaannya dengan gampang bisa terkabul. Doa Madrim begitu jitu.

Alur cerita terasa kuat. Hanung menawarkan formula yang baru tentang sebuah film religi. Ia tak seperti film religi kebanyakan, yang selalu memunculkan simbol-simbol agama. Sebutlah, sejumlah orang lengkap dengan sorban, peci, sembari menenteng alkitab atau petuah ayat-ayat di sana-sini. Tapi lewat Doa Yang Mengancam, pencerahan tentang nilai-nilai religi itu justru muncul dari seorang kuli panggul bernama Madrim.

Dikemas dengan gaya komedi satir yang begitu menusuk. Ada tawa di sana-sini. Sosok Aming, yang dikenal sebagai komedian jenaka, tentu saja menggelitik meski dia tak sedang berkomedi. Hanung mencoba mengajak penonton untuk merenung dan mengambil pelajaran darinya. Sebuah film dengan judul yang provokatif, tapi sarat makna.

Bolong-bolong yang terselip di sejumlah adegan rasanya tertutupi dengan pengadegan, alur cerita, dan pemain yang berhasil memainkannya. Acungan jempol layaknya diberikan kepada Ramzi. Sebagai pendapatang baru di dunia akting layar lebar, Ramzi berhasil memainkan tokoh Kadir, anak mushalla yang jadi sahabat Madrim. Ramzi tampil begitu natural. Ia memberi suntikan energi komedi di film ini.

Pada akhirnya, kita pun akan tersadarkan betapa Madrim bukanlah siapa-siapa. Madrim hadir menyelinap di antara kita atau mungkin menjadi bagian dari diri kita. Marah ketika doa belum terkabulkan, atau justru lupa ketika doa itu terkabulkan. Ah, Madrim ternyata juga aku…


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

  • Tidak ada kategori
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.